Breaking News
Join This Site
Idul Adha 1438 H dalam Bingkai Pendidikan

Idul Adha 1438 H dalam Bingkai Pendidikan

Oleh Ramadhan Fitria, S.Pd - Praktisi Pendidikan
Salah satu peringatan Hari Raya Besar Islam yang jatuh pada hari ini yaitu Idul Adha. Banyak makna dan pelajaran yang harus kita gali serta dipelajari dari momentum ini. Apabila catatan ini telah banyak pembaca tahu dari khatib Jum’at atau para Da’i dalam pidatonya saat Idul Adha hari ini ataupun melalui saluran elektronik, TV, radio atau yang lainya. Maka anggap saja ini sebagai sebuah pelajaran “De Javu” dan ta’kid (penguat) dalam benak dan jiwa untuk selalu menutut ilmu.

Dalam kontruksi pendidikan sering kali kita temukan sebuah problematika pelik tentang bagaimana metode pembelajaran yang benar dan tepat, guna “menggodok” para pelajar untuk menjadi orang yang benar-benar paham dan pandai dalam proses pembelajaran itu sendiri. Sering kali lontaran keritik dan hujatan pedas disampaikan oleh para pengamat pendidikan, para kaum kritisi, atau juga dari objek yang memperoleh pendidikan itu sendiri. Mulai dari pelajar hingga mahasiswa. Namun terkadang kritikan itu tidak disertai dengan solusi yang bersifat positif dan membangun. Padahal etika dalam memberi kritikan seyogyanya disertai solusi yang sesuai dan tentu membantu untuk memecahkan masalah bukan malah menjatuhkan. Mungkin dari hikmah yang tersirat dalam peristiwa Idul Adha ini bisa memberikan secercah solusi untuk pendidikan yang lebih baik.

Idul Adha adalah hari penting dalam Islam yang bermula dari peristiwa penyembelihan oleh Nabi Ibrahim AS pada anaknya Ismail AS. Dalam sejarah mencatat, ketika itu Nabi Ibrahim sangat mendambakan kehadiran seorang anak dalam keluarganya bersama sang istri tercinta Siti Hajar. Setelah puluhan tahun menanti buah hati akhirnya lahirlah Ismail. Ismail tumbuh menjadi anak yang cerdas dan lincah. Hingga tahun berganti tahun, bulan berganti bulan, minggu berganti minggu Ismail mencapai usia remajanya. Ditaksir saat itu umur Ismail menginjak usia 12 tahun.
Dalam suatu malam saat Ibrahim terlelap dalam tidurnya, beliau bermimimpi diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Lantas kejadian ini diabadikan dalam Al-Qur’an :

فلما بلغ معه السعي قال يأبنيّ إنّي أري في المنام أنّي أذبحك فانظر ماذا ترى. قال يأبتى افعل ماذا تؤمر. ستجدونى إنشاء الله من الصابرين {الصافات : 102}

Artinya : Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."{As-Shaaffaat : 102}.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan, mimpi seorang utusan Allah SWT adalah wahyu baginya. Saat bermimpi untuk menyembelih putranya sendiri Nabi Ibrahim dilanda dilema luar biasa. Antara mematuhi perintah Allah SWT atau menyembelih momongan yang sekian lama telah dinanti-nantinya. Akhirnya Ibrahim termenung, dalam lamunanya yang membuatnya semakin terombang-ambing dan melayang-layang tak menentu. Akhirnya diceritakanlah peristiwa ini pada Ismail,"Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!". Dalam potongan ayat ini tertulis jelas setelah menceritakan perihal penyembelihan itu, ditanya Ismail oleh bapaknya “Apa pendapatmu ???”. Bayangkan Ismail yang masih belia, masih berumur 12 tahun, seumuran anak yang baru lulus SD (Sekolah Dasar) ditanya tentang hakikat kehidupan yang luar biasa dalamnya. Yang sangat jauh dari  angan-angan anak sebayanya.
Ada sebuah pelajaran terselubung atau hikmah dari sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Nabi Ibrahim AS pada anaknya. Mengapa seorang Ibrahim, seorang Nabi besar, utusan suci dari Allah SWT harus meminta pendapat pada anaknya yang masih belia tentang sebuah kejadian yang dirasa belum saatnya Ismail paham dan mengerti tentang hakikat kehidupan yang memiliki nilai filosofis tinggi itu. Bukankah lebih layak bagi Nabi Ibrahim untuk menentukannya sendiri tanpa harus meminta pendapat pada Ismail.

Seorang ayah atau pendidik atau guru yang baik  tidak boleh menggangap anaknya selalu kurang. Selalu memberikan doktrin-doktrin yang harus dilakukan anak itu tanpa memberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya atau mengangap setiap anaknya tidak memiliki kemampuan untuk berpikir ala dirinya. Jadi tidak dibenarkan seorang bapak berkata pada anaknya “ahh, ang masih ketek, apo yang ang tau, Indak usah ikuik campua urusan urang gadang” (ahh, kamu itu masih kecil, ngerti apa sih, tidak usah ikut-ikut urusan orang dewasa). Jika ucapan yang demikian ini terus dibudidayakan jangan salahkan anak ketika mereka tidak bisa menjadi manusia yang kreatif dan memiliki pemikiran luas. Sehingga menjadikan anak-anak menjadi jiwa yang cupet, kolot, karena dipotong kreatifitas berpikirnya dengan sengaja yang seharusnya ditumbuh kembangkan.
Bisa kita temui di indonesia slogan-slogan yang dirasa baik dan benar tapi bernilai konyol jika kita lihat dari sudut pandang lain. Misalkan sebuah slogan untuk kebersihan, di sekolah-sekolah di Indonesia sering kita temukan slogan tentang sampah : Pungut, Bawa, dan Buang. Atau buanglah sampah pada tempat sampah. Apakah sebegitu bodohnya anak didik kita jika hanya membuang sampah harus diajarakan sedemikan rupa. Harus dibimbing terlebih dahulu untuk membuang sampah, harus dikasih tahu membuang sampah pada tempat sampah. Kita tenggok Jepang, negara yang masih bersaudara dengan Indonesia dari keturunan benua Asia, saat ini tidak ditemukan tempat sampah dipingir-pinggir jalan di sepanjang jalan yang ada di Jepang. Seorang anak kecil Jepang ketika makan permen, bungkusnya akan mereka masukan saku hingga sampai dirumah baru dibuang di tempat sampah.
Oleh karena itu seorang pendidik harus memberikan sebuah kesempatan pada anak didiknya untuk merenungi dan memahami, memberikan Zona Tafakkur tentang apa itu, kenapa seperti itu dan untuk apa itu serta lain-lainya. Jadilah benar pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang “digerojok”, tapi pendidikan yang lebih mengutamakan penumbuhan kreatifitas melalui pikiran anak didik itu sendiri dari jiwa mereka sendiri. Ada yang mengatakan, jika ingin bisa baca kitab ya jangan ngaji, tapi baca kitab itu. Percuma jika kita ngaji terus ma’nani (memberi ma’na) setelah pulang ditutup tanpa dibuka sedikit pun. Sampai lulus nanti pun tak akan penah bisa baca kitab.


Tentu dalam hal ini tidak menafikan bimbingan seorang pendidik untuk menanggulangi penyelewengan kearah yang negatif, tapi tetap dengan bimbingan yang tepat dan pas. Yaitu dengan tidak melulu “menggerojok” anak didik dengan doktrin saja, tapi juga memberikan ruang mereka untuk berpikir dan memahami dengan pikiran mereka sendiri demi tercapainya kesadaran diri.

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.