Breaking News
Join This Site
Student Centered Learning Tingkatkan Daya Ingat Siswa

Student Centered Learning Tingkatkan Daya Ingat Siswa

Ilustrasi (Foto. Dok)
Ditulis Oleh  Nina Susialawati, S.Pd.I
Artikel - Dalam UUD Pendidikan atau yang dikenal dengan Undang-Undang Sisdiknas dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara (UU Sisdiknas No 20 Th 2003, 2009:3). Artinya pendidikan merupakan suatu aktivitas utuh yang dilakukan oleh siswa dan guru secara bersama guna menimbah bekal bagi siswa untuk mampu menyesuaikan diri dalam kehidupan, sehingga mampu pula mengubah pribadinya menjadi pribadi yang ideal sesuai dengan berbagai karakter yang diharapkan. 
Selanjutnya proses pembelajaran yang merupakan implementasi formal dari pendidikan merupakan proses yang melibatkan siswa secara aktif tidak terlepaskan dari peranan kurikulum. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (UU Sisdiknas No 20 Th 2003, 2009:3).
Berangkat dari teori di atas, maka sudah sepantasnya paradigma pendidikan lama dirubah kepada paradigma pendidikan baru. Dimana pada paradigma pendidikan baru siswa tidak lagi dijadikan objek semata dalam pembelajaran, akan tetapi juga dijadikan subjek dan objek sekaligus dalam pembelajaran atau dengan kata lain siswa harus terlibat aktif dalam pembelajaran. Artinya pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru (Teacher Centered learning), akan tetapi pendidikan diarahkan kepada Student Centered Learning. Banyak manfaat dari Student Centered diantaranya: Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran, maka siswa akan lebih mudah mengingat apa yang telah dipelajari, karena belajar dengan pengalaman sendiri, tentu akan lebih berbekas diingatan mereka daripada disuapi dan mereka bisa belajar dengan gaya mereka sendiri.
Sebagai contoh kecil ketika mereka diberi kesempatan dan kebebasan yang bertanggung jawab mencari suatu materi ajar. Kita mesti ingat gaya belajar setiap siswa tidak sama, mereka ada yang lebih suka mencari informasi dengan membaca buku, tapi ada juga yang suka mengumpulkan pembahasan melalui kasus nyata dalam kehidupan, ada juga yang lebih suka mengumpulkan informasi dari media dan lain sebagainya, ada juga yang suka mengumpulkan informasi dari keterangan orang lain. Maka jika para guru terus-menerus berprinsip untuk menerangkan pembelajaran di depan kelas tanpa strategi, metode dan model pembelajaran yang bervariasi pula, sudah dipastikan tidak semua siswa mampu menyerap pembelajaran dengan baik. Hal ini juga sudah dijelaskan dalam indikator metode pembelajaran, dimana salah satu indikator dari metode pembelajaran yang baik adalah mengurangi verbalitas dalam menyampaikan materi oleh guru. (Samata, 2014:4). Hal ini tentu bukan tidak beralasan, karena sebagian besar siswa rentan dihinggapi rasa bosan atau jenuh mendengar sebuah ceramah yang sifatnya monoton, maka penting kiranya kita sebagai guru menciptakan proses pembelajaran sesuai dengan gaya belajar siswa secara bervariasi, Misalnya menggunakan metode inquiri. Dimana metode ini menuntut siswa aktif mencari sendiri bahan materi ajar untuk dipresentasikan dan di diskusikan. Selanjutnya juga bisa menggunakan metode Constektual (mendekatkan materi ajar dengan dunia nyata), studi kasus dan lain sebagainya.
Upaya implementasi Studen Centered Leraning tentulah bukan hal yang mudah untuk diterapkan dipicu beberapa faktor penghambat diantaranya siswa masih terbiasa dengan paradigma pembelajaran lama dan kurangnya dukungan dari orang tua terhadap pembelajaran, karena adakalanya untuk mengggali bahan materi ajar bisa membutuhkan biaya tambahan, seperti sumber belajar. Kendati demikian Student Centered Leraning ini bisa diterapkan dengan melakukan berbagai kegiatan penunjang misalnya:
1.      Memanfaatkan berbagai sumber belajar yang ada di sekitar sekolah.
2.      Memanfaatkan pustaka mini yang ada di sekolah.
3.      Memanfaatkan lingkungan sebagai media belajar. (Reza Rindi, 2014:4)

Beberapa contoh aktivitas pembelajaran berbasis Student Centered Learning misalnya untuk pelajaran PKN, maka kegiatan rapat seperti rapat kelas, osis dan kegiatan ekstrakurikuler dapat dijadikan laboratorium demokrasi di luar kelas. Selanjutnya, proses pembelajaran IPA tidak untuk pembelajaran berbasis Student Centered Learning tidak mutlak menggunakan laboratorium sebagai sarana belajar. Lingkungan sekitar sekolah yang hijau penuh dengan tanaman serta sawah di pekarangan tetangga dekat sekolah bisa menjadi medan atau arena belajar IPA. Murid-murid belajar terkait dengan tanaman, mulai dari proses penanaman, pembuatan pupuk, sampai perawatan tanaman. Hal ini bisa dilakukan juga untuk melatih kemampuan berbicara siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yakni dengan cara mewawancarai petani yang ditemukan di arena belajar. Selanjutnya guru member penegasan  langkah langkah pembuatan pupuk kandang untuk dilakukan tugas proyek oleh siswa secara berkelompok di rumah. Pembelajaran ini tidak hanya meningkatkan skill siswa, akan tetapi serta mengurangi penggunaan pupuk kimia yang berbahaya untuk lingkungan.

Contoh lain penerapan pembelajaran berbasis Student Centered Learning juga bisa dilakukan dalam pembelajaran IPS. Misalnya dalam materi penyebaran flora dan fauna di Indonesia tingkat Sekolah Dasar dapat memanfaatkan tanaman dan hewan yang tampak di sekitar rumah warga dekat sekolah. So, siapa bilang Student Centered Learning sulit dilaksanakan. Moga Bermanfaat khusunya bagi para guru Se Indonesia.