BLANTERVIO103

Mengapa Menjadi Guru?

Mengapa Menjadi Guru?
7/16/2019

Tugas Mulia

Rasululllah SAW.  bersabda, "Sesungguhnya Allah dan malaikatnya,  para penghuni langit dan bumi hingga semut yang ada di dalam tanah (di tempat tinggalnya) dan ikan hiu yang ada di dasar laut mendoakan kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia."
Al Qur'an Surah Al Mujadilah ayat 11 yang terjemahannya berbunyi, "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.  Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Guru adalah orang yang bersamuderakan ilmu pengetahuan.  Ia adalah cahaya yang menerangi kehidupan manusia.  Ia adalah musuh kebodohan dan penghapus kejahiliyahan, serta mengajarkan apa-apa yang diketahuinya kepada sesama agar mampu menjalani kehidupan penuh kebahagiaan.  Ia juga mencerdaskan akal dan melembutkan hati serta mencerahkan akhlak.  Maka, tidak diragukan lagi bahwa manusia yang paling berhak untuk mendapatkan penghargaan dan penghormatan adalah sang guru.  Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk memuliakan dan menghargai sang guru.  Karena,  ia adalah pembawa risalah yang paling mulia yaitu, risalah ilmu pengetahuan dan pendidikan yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah yang terakhir.
Banyak orang sering mengira bahwa tugas seorang guru hanyalah mengeja huruf dan menghitung angka. Sekilas  kelihatannya amat sederhana...
Sederhana?
Namun, pada prakteknya tidak sesederhana yang dipikirkan orang.  Guru memiliki peran sebagai lapis kedua setelah orang tua dalam mengajar dan mendidik anak.  Guru mempunyai peran yang sangat besar dalam tumbuh dan berkembangnya seorang anak.  Kehidupan di masa depan yang akan dijalani anak saat dewasa , apakah dia akan menjadi orang yang baik dan selalu memberikan  kebaikan kepada lingkungannya ataukah dia akan menjadi orang yang selalu menyusahkan orang lain dimanapun keberadaannya, semuanya dipengaruhi oleh hasil didikan guru-guru mereka selain didikan keluarga dan pengaruh lingkungan pergaulannya.
Hampir tidak ada seorang manusiapun atau seorang tokohpun di dunia ini yang berhasil tanpa bimbingan dan didikan seorang guru.  Dia tidak akan menjadi seorang ilmuwan yang termasyur, politisi ulung dan handal,  tentara atau polisi yang gagah berani,  pilot atau nahkoda yang cekatan,  olahragawan atau atlet yang berprestasi, dan lain sebagainya,  kecuali sebelumnya dia belajar banyak dari beberapa guru.  Bahkan Baginda Nabi Muhammad SAW pun mengawali masa kecilnya dalam bimbingan seorang guru, sekaligus ibu susunya yaitu Halimatus Sa'diyah.  Halimahlah yang mengajarkan kepada Rasulullah tentang cara berperilaku yang baik, misalnya, bagaimana Rasulullah bersikap baik dan bertutur kata sopan serta bertindak santun kepada orang lain baik terhadap teman sebaya ataupun terhadap orang dewasa.
Halimatus Sa'diyah merupakan salah seorang dari suku Sa'ad yang termasuk suku Badui Arab.  Suku Badui Arab memang terkenal dengan kemurnian bahasanya sehingga keluarga Abu Muthalib memercayakan pengasuhan Muhammad kecil kepada mereka.  Sampai Muhammad dewasa, beliau tetap menghormati Halimah seperti beliau memperlakukan orang tuanya.

Setiap Kita Adalah Guru
Secara formal dan perundang-undangan,  menurut Undang-undang No. 14/2005, pasal 1, butir 1 tentang guru dan dosen, "Yang disebut dengan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah."
Meskipun demikian, pada dasarnya setiap orang adalah guru, yakni contoh yang mesti digugu setiap ucapannya atau lisannya dan ditiru setiap perbuatannya atau tindak tanduknya,  terutama oleh anak-anak yang sangat pandai meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya.
Biasanya, usia anak-anak dini sangat cepat menerapkan apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka rasakan dari lingkungannya.  Ingatan merekapun sangat tajam dan membekas, sehingga apa yang mereka dapatkan ketika masih kecil akan berbekas sangat kuat dan berdampak hingga mereka dewasa.  Seperti peribahasa yang sering kita dengar; belajar diwaktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.  Oleh karena itu, orang dewasa yang dijadikan contoh oleh mereka mesti mawas diri dan pandai-pandai menjaga perilakunya sehingga dia mampu menjadi contoh yang baik atau menjadi teladan bagi anak-anak.
Coba kita amati, betapa anak-anak kita sangat terdampak akibat perkembangan dan kemajuan teknologi.  Tidak sedikit mereka yang meniru segala apa yang mereka lihat dari tontonan televisi maupun telepon genggam atau "handphone/gadget" tanpa mampu memfilternya terlebih dahulu, mana yang baik untuk ditiru dan yang mana yang mesti ditinggalkan.  Media-media non elektronik seperti surat kabar-surat kabar, majalah, buku-buku bacaan, juga turut andil dalam perkembangan jiwa dan sosial anak-anak.  Semua yang mereka serap mampu menimbulkan pengaruh negatif bagi perkembangan mentalnya.
Salah satu faktor penting yang mampu menetralisir perkembangan negatif anak-anak adalah dengan mempengaruhinya melalui dunia pendidikan.  Guru sebagai salah satu kekuatan besar "agen of change" diharapkan mampu mendidik dan membimbing anak-anak secara baik dan benar.
Sekolah sudah seharusnya membutuhkan dan memiliki guru-guru yang handal, berkualitas, profesional, memiliki visi yang jauh untuk mengantisipasi perkembangan jaman.  Yang lebih penting bagaimana sekolah mampu memiliki guru yang mengajarkan anak dengan keluasan ilmunya serta mendidik anak dengan kedalaman hatinya.  Dengan demikian seorang guru dapat menjadikan mereka sebagai generasi yang hebat dijamannya, yakni generasi penerus yang mampu memuliakan bangsa dan negaranya sekaligus juga generasi pelurus yang mampu memuliakan agamanya sehingga mereka menjadi generasi Rahmatan Lil'alamiin.

Penulis                      : Imam Santoso
Nama Pena               : isantpenyair
Tempat Tugas            : SD Al Hanief


Share This Article :

TAMBAHKAN KOMENTAR

9037033462089962238